Sabtu, 02 November 2013

Trik Licik Developer Antivirus



Berbicara tentang virus, sebenarnya ada banyak macamnya. Ada H5N1, polio, HIV, dll (Apa-apaan ini? Ngajak berantem?). Ups, sorry, saya lupa kali ini kita tidak sedang membahas itu. Kali ini kita bicara tentang virus komputer. Nah, virus komputer itu ada yang cuma berupa shortcut yang mengarah ke halaman web tertentu, ada yang menyembunyikan file dan folder, ada yang mengutak-atik registry windows, dsb. Nah, kalau hanya virus-virus seperti itu mah pakai SMADAV sudah cukup. Tapi, kalau virus yang menginfeksi sebuah program?
Nah, ketika kita menginstal sebuah antivirus ke dalam komputer, biasanya akan muncul sejumlah daftar file yang dianggap virus. Terus setelah kita klik “bersihkan”, antivirus itu bilang komputer kita sudah aman. But tetapi walakin (sama aja artinya), setelah beberapa Minggu atau beberapa bulan tiba-tiba muncul peringatan bahwa ada virus di komputer kita. WTH is going on? (oh tidak, jangan dipanjangkan singkatannya!)
Nah, sebenarnya para developer antivirus itu ada beberapa yang memang sangat licik. Pertama mereka mengatakan bahwa komputer kita terkena virus. Terus mereka menjadi pahlawan yang membasmi virus tersebut. Wow, kereennn.... Eit, tunggu dulu! Virus yang dideteksi mereka itu kebanyakan bukanlah virus lho. Sebenarnya itu cuma beberapa file berekstensi .exe (bilang aja file aplikasi) yang memiliki hak mengakses harddisk (read & write) tanpa nama perusahaan terkenal (ex. Microsoft, Adobe, dll). Jadi, program buatan kita pun bisa dengan mudah dikenali sebagai virus. Tapi itu kan cuma pendapat saya?
OK, katakanlah antivirus memang membuang virus di awal instalasi. Tapi, mengapa setelah beberapa lama tiba-tiba komputer kita semakin berat dan banyak virus terdeteksi sehingga kita merasa komputer kita sudah menurun jauh kinerjanya? Bahkan terkadang komputer kita error sampai harus diinstal ulang. Nah, inilah trik licik antivirus yang saya maksud.
Antivirus memang bekerja dengan baik (Lho kok tadi menjelek-jelekkan?), tapi jika kita terus mengupdatenya. Ibarat kata nih, proteksi antivirus itu bukan lifetime, tapi berjangka waktu. Kalau kita mengupdatenya, jangka waktu itu akan ditambah. Namun kalau kita tak pernah mengupdatenya antivirus itu akan menghancurkan komputer kita, seolah berkata: “Wah, virus di komputer Anda semakin canggih, kami sudah tidak mampu mengatasinya. Anda harus segera mengupdate antivirus ini”.
Jadi, apa intinya? Intinya adalah antivirus membuat kita ketagihan, sama seperti NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Aditif lainnya / istilah kerennya narkoba). Nah, temen-temen pasti dah tahu kan bahwa makai narkoba itu tidak boleh? (WTH? Emang antivirus bisa bikin mabuk?) Haha, so, kesimpulannya tak usah deh pasang antivirus macem-macem. Cukup SMADAV aja (kalau ini saya yakin gak memabukkan), terus kalau yang kena virus adalah program yang sering kita gunakan, pakai aja Kaspersky Virus Removal Tool (mirip SMADAV, harus dijalankan secara manual, jadi gak memperberat kinerja komputer). Ingat, Kaspersky yang ini cuma membersihkan program yang sudah terinfeksi virus, bukan menghapusnya ataupun mengimunisasinya.
Nah, cara yang paling mudah mendeteksi virus itu pakai task manager. Kalau ada lis program yang mencurigakan, segera cari lokasinya, terminate, dan delete. Tapi hati-hati, kalau salah identifikasi, bisa-bisa harus instal ulang. Nah, akhirnya saya ucapkan selamat menempuh hidup baru tanpa antivirus dan tanpa virus. Oh iya, artikel ini tidak berlaku untuk company ya...

Ada komentar, kritik, saran, atau request?